Sunday, April 12, 2015

Muhasabah ( Introspeksi Diri )

Muhasabah ( Introspeksi Diri )

Seorang muslim perlu selalu melakukan muhasabah (introspeksi). Terutama ia harus periksa adakah dirinya telah memenuhi kriteria seorang beriman sejati? Dan untuk itu ia mesti membuktikan bahwa dirinya merupakan seorang muslim di hadapan Allah.Bukan di hadapan manusia lainnya. Muslim-mukmin sejati pasti mengharapkan pengakuan dari Allah,bukan dari sesama manusia, bahkan bukan pengakuan dari dirinya sendiri.



Di dalam bukunya, Anshari Ismail menulis sebagai berikut:

“Yang perlu kita lakukan hanyalah membuktikan diri bahwa kita ini seorang muslim. Muslim yang dikehendaki oleh Allah, bukan muslim yang kita kira sendiri. Karena kita adalah hamba Allah ,bukan hamba diri sendiri. Karena kita mengharap ridha Allah, bukan ridha diri sendiri. Oleh karena itu, untuk membuktikan bahwa kita seorang muslim, maka kita harus ber-Islam dengan caranya Allah,bukan dengan cara kita sendiri. Tetapi bagaimana ber-Islam dengan cara Allah ?” (“Jalan Islam-Transformasi Akidah dalam Kehidupan” **Anshari Ismail; An-Nur Books Publishing 2008, hlm. 7)

Dewasa ini, tidak sedikit kaum muslimin yang ber-islam menurut kemauannya sendiri atau kemauan orang lain. Sehingga ia membuat kriteria sendiri siapa yang disebut muslim. Dan karena kriteria itu adalah buatannya sendiri, maka cenderung disesuaikan dengan keinginan pribadi. Misalnya, dia menganggap dirinya muslim bila sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, tanpa memandang perlu memahami konsekuensinya. Dia kira hanya dengan sudah mengucapkan secara lisan dua kalimat syahadat berarti seseorang sudah pasti terpelihara dari api neraka dan masuk surga. Dia berlindung di balik hadits seperti:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mengucapkan, “Tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah (laa ilaaha illa Allah), niscaya dia masuk surga.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi No. 2562)

Sedangkan Syaikh Abu Abdurrahman Al-Atsari menulis sebagai berikut:

“Ada pula beberapa hadits yang serupa. Banyak dari mereka menganggap bahwa mengucapkan dua kalimat syahadat sudah cukup menetapkan sifat Islam dan berhak masuk surga meskipun tidak mengerjakan sholat, melakukan perbuatan mungkar, menghina Allah Rasul-Nyadan ayat-ayatNya, menyekutukan Allah  dengan sesuatu yang tidak mempunyai kekuasaan, memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta orang-orang komunis, menerapkan hukum-hukum kafir, UUD jahiliyah bagi manusia, melarang sebagian aturan-aturan Islam dan memeranginya, seperti jihad fii sabilillah, sebagaimana yang terjadi di negeri kaum muslimin hari ini. Jelas itu hanya terjadi pada orang bodoh atau orang pandir yang membela para thaghut, yang tumbuh sejak kecil hingga tua di atas aturan itu…” (“Al-Haqq wal-Yaqin fi ‘Adawat At-Tughat wal-Murtaddin” **Abu Abdurrahman Al-Atsari; Media Islamika 2009, hlm. 17)

Mengucapkan dua kalimat syahadat memang merupakan bentuk resmi seseorang dikatakan memeluk agama Islam, namun sekadar mengucapkannya tidak serta-merta menjadikan seseorang menjadi mukmin sejati. Ia perlu membuktikan dirinya melalui berbagai pengalaman di dalam hidupnya agar jelas terlihat bahwa antara ucapan di lisan, pembenaran di dalam hati dan pembuktian dengan segenap anggota tubuh ada keselarasan dan hilanglah pertentangan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Semua itu perlu didukung dengan ilmu dan amal. 

Oleh karenanya Allah berfirman bahwa setiap orang yang mengaku muslim perlu diuji agar jelas apakah pengakuannya jujur atau dusta.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)

Seorang muslim pasti mengalami aneka ujian dari Allah.Terkadang ujian berupa kesulitan dan terkadang berupa kesenangan. Semua ujian tersebut dimaksudkan untuk menyingkap jenis muslim seperti apakah diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk seorang muslim jujur, yang berarti masuk ke dalam kelompok mukmin sejati. 

Inilah di antaranya golongan yang digambarkan Allah  di dalam surah Al-Kahfi:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلا خَالِدِينَ فِيهَا لا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (QS. Al-Kahfi [18] : 107-108)

Ataukah termasuk jenis muslim pendusta. Dan jika termasuk pendusta, maka ia dapat masuk ke dalam kelompok munafiqun yang digambarkan Allah سبحانه و تعالى seperti berikut:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 8-9)

Di samping itu, seorang muslim pendusta bisa masuk ke dalam golongan musyrikin yakni orang-orang yang mempersekutukan Allah .

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf [12] : 106)

Ada lagi kemungkin ketiga yaitu seorang muslim pendusta masuk ke dalam golongan kaum murtaddun (orang-orang yang murtad). Dia divonis keluar dari Islam karena telah melakukan pelanggaran yang termasuk kategori nawaqidh al-iman (pembatal keislaman).

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَلا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah [9] : 65-66)

Muslim pendusta yang masuk ke dalam golongan munafiqun, musyrikun maupun murtaddun merupakan golongan yang sungguh merugi. Sebab mereka pada hakikatnya tidak bisa disebut orang beriman. Mereka bakal kekal selamanya di dalam neraka.

Mengenai kaum munafiq Allah bakal menempatkan mereka di dalam neraka yang paling buruk siksaannya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An-Nisa [4] : 145)

Sedangkan kaum musyrikin Allah jelaskan keadaan mereka sebagai orang-orang yang tidak diterima segenap amal yang telah mereka kerjakan, betapapun banyaknya kebaikan, amal sholeh maupun amal ibadah yang telah dikerjakannya.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh, bila kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39] : 65)

Adapun kaum murtaddin, maka mereka menjadi sama kedudukannya dengan orang kafir. Sebab mereka rela meninggalkan iman dan malah memilih untuk menjadi kafir.Allah menggambarkan mereka sebagai berikut:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)

Oleh karenanya di dalam sejarah Islam terdapat banyak contoh dimana Nabi Muhammad dan para sahabat utama memperlakukan orang yang secara status muslim namun diperlakukan sebagai orang di luar Islam. Orang-orang itu mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun mereka telah dinilai keluar dari agama Islam karena terlibat dalam pelanggaran yang dikategorikan sebagai nawaqidh al-iman (pembatal keislaman).

Salah satunya ialah yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsirnya ketika membahas surah An-Nisa ayat 65:

“Dua orang lelaki yang berselisih datang menemui Nabi Muhammad lalu beliau memutuskan tidak bersalah kepada fihak yang benar di atas fihak yang salah. Fihak yang diputuskan bersalah tidak mau menerima dan berkata kepadanya: “Saya tidak terima!” Kemudian yang satunya bertanya: “Lalu apa maumu?” Ia menjawab: “Kita pergi ke Abu Bakar Ash-Shiddiq!” Merekapun pergi. Orang yang diberi keputusan tidak bersalah berkata kepada Abu Bakar: “Kami telah mencari keadilan kepada Nabi lalu aku diberi keputusan tidak bersalah.” Abu Bakar lalu berkata kepadanya: “Kamu berdua harus menerima apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah.” Akan tetapi yang satunya tidak mau menerima. Keduanya kemudian menemui Umar bin Khattab, lalu orang yang diberi keputusan tidak bersalah berkata: “Kami telah mencari keadilan kepada Nabi  lalu aku diberi keputusan tidak bersalah tetapi yang satunya tidak mau menerima.” Mendengar permasalahan ini lalu Umar bertanya kepadanya dan dijawab benar adanya. Umar kemudian masuk dan pergi lagi membawa pedang terhunus di tangannya. Lalu orang yang tidak mau menerima keputusan Rasulullah  tersebut ditebas lehernya..!” 

Maka turunlah ayat sebagai berikut:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa [4] : 65)

Subhanallah…! Sungguh luar biasa firasat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau dapat mendeteksi kekafiran di dalam diri orang yang tidak kunjung dapat menerima keputusan yang telah diambil oleh Rasulullah padahal telah dikonfirmasi kebenarannya pula oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Bayangkan, Allah memerlukan untuk bersumpah atas nama diri-Nya sebagai Rabb. 

Allah  berfirman mengawali ayat di atas dengan firman-Nya: “Maka demi Rabbmu”. 

Artinya, Allah sangat serius ingin menjelaskan raibnya iman pada diri seorang yang mengaku muslim namun ia:

(1) tetap enggan menjadikan Rasulullah  sebagai hakim, lalu

(2) tetap merasa keberatan dalam hatinya terhadap keputusan Rasulullah dan

(3) tidak menerima dengan sepenuhnya keputusan Rasulullah tersebut.

Kejadian di atas merupakan satu saja dari sekian banyak contoh generasi awal ummat Islam yang tidak mudah terkecoh menilai seseorang sebagai muslim hanya dengan mengandalkan bahwa orang tersebut telah mengucapkan secara lisan dua kalimat syahadat.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai (Allah) Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi No. 2066)

Wallahu’alam bishshawab …


Flirting and Temptation on Social Media


Those who purposely tempt the believers and do not repent from their evil will end up in Hell Fire. Fitnah (فتنة) in Arabic means both temptation and tumult.

1- Causing doubts in the hearts of the Believers toward Islam by talking negative about Islam.
2- Verbal sexual enticement.
3- Dressing inappropriately, such as wearing bikinis where 99% of the nakedness is exposed to the public.
4- Encouraging evil actions and decisions such as gambling, drinking alcohol, taking drugs, etc...
5- Purposely causing two parties or two groups of people to have conflicts with each others. See also: What does Islam say about tumult?
And so on....



Easily cheating,lying,hurting,mix in haram relation or fun of someone feelings.If you are not serious for anything then don’t do such things.
Flirting is forbidden in Islam...Its attracting the opposite sex to you..And the more you attract the opposite sex, or make happy in the wrong way (which is flirting) the more sin you will get...
many of u bro msg girl and say oh dear I LOVE U I CANT LIVE WITHOUT U and when girl say u are kidding HE MAKE HER REALISE OH MY DARLING I WILL TAKE OUT MY HEART AND SHOW HOW IT IS BEATING IN UR LOVE ooh hoooo?????and such type of ediotic msg and girls are too stupid that they really fall in love .
on the same side many sisters making bro fool by uploading their attractive picts on fb,with so many kind of attactive poses and much more boys just hit like or gives such nice comments,They will be feel much happier and proud (naudzubillah) and then though which boys get attracted.

Wallah I am not insulting you or anyone here but love is something which incidentaly fall with someone but ALLAH has even given us the stamina to control it .so if you cant stand on your words just break down such relation forever and even dont misguide any men or women or boy and girl
and more you chat with non mahram more desire you will get it is only from Shaytan thats what that syaitan want us muslims to go astray.

Allah Almighty Said:
Verily, those who make trial of the believers, men and women, and then do not repent, for them is the torment of hell, and for them is the torment of the burning! [85:10]
As we clearly see in Noble Verse 85:10, anyone who purposely draws a believing Muslim into temptation (any form of evil temptation) then he/she is committing a sin, and if he/she doesn't repent, then their punishment with Allah Almighty is severe.
You must remember Allah first and foremost. Remember that He tells us in the Quran what means:
{And come not near unto adultery. Lo! it is an abomination and an evil way.} (Al-Israa 17: 32)
And He also tells men and women to be modest in words that mean:
{Tell the believing men to lower their gaze and be modest. That is purer for them. Lo! Allah is Aware of what they do. And tell the believing women to lower their gaze and be modest, and to display of their adornment only that which is apparent…And let them not stamp their feet so as to reveal what they hide of their adornment…} (An-Nur 24: 30–31)
so my only one aim in this post was to tel u all dont flirt dont misguide anyone from path of ALLAH and you yourself don't be misguided whether it is Facebook,Google,Yahoo or any place.
Keep in mind that your purpose in life is to worship Allah and please Him. And remember that Allah is WATCHING everything you do.
MAY ALLAH SAFE YOU,ME AND ALL MUSLIM , MUSLIMAH from such sins and even safe us from ibless stupid thoughts and and his useless tricks.
Allahumma Aameen...

Monday, April 6, 2015

10 Principles for Peaceful Life

10 Principles for Peaceful Life

1. Do Not Interfere In Others’ Business Unless Asked
Most of us create our own problems by interfering too often in others’ affairs. We do so because somehow we have convinced ourselves that our way is the best way, our logic is the perfect logic and those who do not conform to our thinking must be criticized and steered to the right direction, i.e. our direction. This thinking denies the existence of individuality and consequently undermines the Intelligence and Creativity that is only attributed to Allah. Allah has created each one of us in a unique way. No two human beings can think or act in exactly the same way. All men or women act the way they do because Allah has made each one of us different, with different personalities. Be patient with one another, and mind your own business and you will keep your peace. 

2. Forgive And Forget
This is the most powerful aid to peace of mind, but also challenging to achieve. We often develop ill feelings inside our heart for the person who insult us or harm us. We nurture grievances resulting in loss of sleep, development of stomach ulcers, and high blood pressure. We further aggravate stress in ourselves by remembering, and reminding ourselves of the very persons that caused us harm. Get over this bad habit. Life is too short to waste in such trifles. Forgive, forget, and march on. Love flourishes in giving and forgiving.

3. Do Not Crave For Recognition
This world is full of selfish people. They seldom praise anybody without selfish motives. They may praise you today because you are in power, but no sooner than you are powerless; they will forget your achievement and will start finding faults in you. Why do you wish to kill yourself in striving for their recognition? Do your duties ethically and sincerely, and only seek the pleasure of Allah through Salah and Ibadah.

4. Do Not Be Jealous
We all have experienced how jealousy can disturb our peace of mind. You know that you work harder than your colleagues in the office, but sometimes they get promotions; you do not. You started a business several years ago, but you are not as successful as your neighbour whose business is only a one year old. There are several examples like these in everyday life. Should you be jealous? No. Remember, a person’s life is shaped by their destiny, which becomes their reality. If you are destined to be rich, nothing in the world can stop you. And if you are destined to be poor, then no matter what you do, you will only be what you are destined to be. Nothing will be gained by blaming others for your misfortune. Jealousy will not get you anywhere; it will only take away your peace of mind.

5. Change Yourself
If you try to change the environment single-handedly, the chances are you will fail. Instead, change yourself to suit your environment. As you do this, even the environment, which has been unfriendly to you, will mysteriously change and seem congenial and harmonious.

6. Endure What Cannot Be Cured
 Every day we face numerous inconveniences, ailments, irritations, and accidents that are beyond our control. If we cannot control them or change them, we must learn to put up with these things. We must learn to endure them cheerfully. Believe in yourself and you will gain in terms of patience, inner strength and will power.

7. Do Not Bite Off More Than You Can Chew
We often tend to take more responsibilities than we are capable of. This is done to satisfy our ego. Know your limitations. Why take on additional loads that may create more worries? You cannot gain peace of mind by expanding your external activities. Reduce your material engagements and spend time in prayer, and introspection. It will prevent you from thinking of matters that upset you. An uncluttered mind is a peaceful mind.

8. Make Regular Dhikr
Dhikr, the remembrance of Allah, calms the mind and gets rid of disturbing thoughts. Try it yourself. If you do tasbih, dhikr, whenever you are free, your mind will be at peace during the day. Your mind will not be easily disturbed as it was before. You may think that this will interfere with your daily work. On the contrary, this will increase your efficiency and you will be able to produce better results in less time.

9. Never Leave The Mind Vacant
An empty mind is the devil’s workshop. Keep your mind occupied in something positive, something worthwhile and negative thoughts will not plague your mind. Actively follow a hobby, something that holds your interest. You must decide what you value more: money or peace of mind. Your hobby, like social work or religious work, may not always earn you more money, but you will have a sense of fulfillment and achievement. Even when you are resting physically, occupy yourself in healthy reading or mental chanting of God’s name.

10. Do Not Procrastinate And Never Regret
Do not waste time in protracted wondering, “Should I or shouldn’t I?” You can never plan enough because you can never fully anticipate all future happenings. Value your time and do the things that need to be done now. It does not matter if you fail the first time, so long as you don’t leave it for tomorrow. You can learn from your mistakes and succeed the next time. Sitting back and worrying will lead to nothing. DO NOT REGRET. Whatever happened was destined to happen. Why cry over spilled milk?

Thursday, April 2, 2015

Show Them


If you give an advice to your friends,your students,your children,brothers,sisters,or to another else,it must  be a reflection for what you tell to them.

If you tell him don't smoking,you should not smoking
if you tell him don't lie,then you must be always be honest.
if you tell her to cover her body by wearing hijab,so yourself also must be wear that hijab.
if you advice them to read Quran everyday,to pray on time,then you should be the role model for them that you also do every what you tell to them.

so, everything is not enough simply as giving an advice or tell a prohibition with words alone.
but we should show them...give them examples to follow.

=> Again....A good reminder for myself & foremost